Tampilkan postingan dengan label disfungsi ereksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label disfungsi ereksi. Tampilkan semua postingan

Pengobatan Disfungsi Ereksi

Diposting oleh Unknown on Rabu, 06 Juni 2012

Untuk mendiagnosa penyebab disfungsi ereksi, dokter bertanya seputar penyakit dan kondisi yang bisa berperan serta dalam disfungsi ereksi dan obat-obatan yang digunakan. Pemeriksaan fisik umum, termasuk pemeriksaan organ kelamin dan prostat, dilakukan. Dokter bisa mengukur fungsi syaraf yang mensuplai kelamin. Mengukur tekanan darah pada kaki dan menghitung detak pada kaki dan tangan bisa mengungkap masalah pada pembuluh arteri.

Contoh darah bisa diambil untuk mengukur kadar testosteron. Beberapa tes darah dapat membantu mengenali penyakit yang mungkin menyebabkan disfungsi ereksi sementara atau tetap, seperti diabetes atau infeksi.

Jika masalahnya pada arteri atau pembuluh dicurigai, tes khusus dapat dilakukan. Contohnya, sebuah alat dapat digunakan di rumah untuk mengukur ereksi selama tidur (pada waktu terjadinya normal). Jika ereksi ada selama tidur, penyebabnya mungkin sekali psikologi, sebaliknya bila ereksi tidak ada selama tidur, penyebabnya mungkin sekali fisik. Ultrasonography juga bisa digunakan untuk mengukur aliran darah ke penis.

Tindakan yang dapat membantu mencegah atau mengontrol memberi kontribusi disfungsi ereksi, seperti tekanan darah tinggi, atherosclerosis, dan diabetes, juga bisa membantu memperbaiki disfungsi ereksi, meskipun efeknya kemungkinan kecil. Contohnya, menurunkan berat badan, olahraga, dan berhenti merokok bisa membantu. Beberapa pria dan pasangannya dapat memilih untuk mengikuti semua pengobatan untuk disfungsi ereksi. Kontak fisik tanpa ereksi bisa memuaskan kebutuhan mereka untuk keintiman dan terpenuhi.

Kadangkala, berhenti menggunakan obat tertentu dapat meningkatkan ereksi.
Beberapa obat tradisional untuk disfungsi ereksi tersedia, namun belum terbukti khasiatnya.

Pengobatan Disfungsi Ereksi

Untuk pria yang memilih mengikuti pengobatan, ada banyak pilihan.

Pengobatan dengan obat : banyak obat-obatan digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi. Kebanyakan obat-obatan yang diberikan untuk mengobati disfungsi ereksi meningkatkan aliran darah ke penis. Kebanyakan obat-obatan ini diberikan melalui mulut, namun beberapa obat-obatan bisa dioleskan-dengan suntikan atau diselipkan ke dalam penis.

Sildenafil, vardenafil dan tadalafil dikenal sebagai penghalang phosphodiesterase. Ini adalah obat-obatan yang sering digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi. Efektif pada pria dengan disfungsi ereksi sekitar 60 sampai 75 %. Obat-obatan ini digunakan melalui mulut sekitar 1 hari sebelum aktifitas seks. Tadalafil efektif untuk sekitar satu hari, lebih lama dari sildenafil. Beberapa merek dagang bernama Viagra dan vardenafil, yang efektif untuk sekitar 4 sampai 6 jam. Obat-obatan ini efektif hanya pada waktu seorang pria bangkit hasrat seksnya. Efek samping dari penghalang phosphodiesterase termasuk sakit kepala, muka merah, hidung kaku, perut melilit, gangguan penglihatan.

Efek samping yang lebih serius, termasuk tekanan darah rendah yang berbahaya, dapat terjadi ketika penghalang phosphodiesterase diberikan dengan obat-obatan tertentu (seperti nitrogliserin atau amyl nitrit). Karena resiko ini. Pria seharusnya tidak menggunakan penghalang phosphodiesterase jika mereka menggunakan nitrogliserin. Jarang terjadi, pria pengguna obat-obatan ini mengalami kebutaan, meskipun bisa saja kebutaan tidak ada hubungannya dengan pemakaian obat. Penghalang phosphodiesterase dapat menyebabkan rasa sakit, ereksi lama, namun sangat jarang terjadi.

Obat-obatan oral lainnya yang telah digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi adalah phentolamine, yohimbine dan testosteron. Mereka memiuliki kegunaan yang terbatas dan dapat menimbulkan efek samping yang signifikan.

Obat-obatan suntik atau dimasukkan ke penis memperlebar arteri dan menambah aliran darah ke penis. Pria yang tidak bisa menggunakan obat-obatan melalui mulut kadangkala bisa diobati dengan obat ini. Sebuah contoh adalah alprostadil, dalam bentuk sebuah kaplet (supositoria), yang bisa dimasukkan ke dalam penis melalui saluran kencing. Hal ini dapat menyebabkan light-headedness, rasa terbakar pada penis, atau, adakalanya, ereksi yang menyakitkan dalam waktu lama (priapism). Karena efek samping serius ini adakalanya terjadi, seorang pria biasanya menggunakan dosis pertama di bawah pengawasan dokter di ruangan dokter.

Seorang pria juga bisa memancing ereksi dengan menyuntikkan obat-obatan (seperti alprostadil sendiri atau kombinasi dari alprostadil, papaverine, dan phentolamine) ke dalam batang penisnya. Suntikan adalah salah satu yang paling efektif untuk mencapai ereksi, menghasilkan ereksi 80 sampai 90% pria dengan disfungsi ereksi. Meskipun begitu, banyak pria enggan untuk menyuntik penisnya. Lagipula, suntikan ini kadangkala menyakitkan dan adakalanya menimbulkan priapism, dan suntikan berulang bisa menghasilkan luka pada jaringan.

Terapi pengganti testosteron dapat menolong pria yang menderita disfungsi ereksi yang disebabkan tidak normalnya kadar testosteron. Berbeda dengan obat-obatan lain, yang cara kerjanya meningkatkan aliran darah ke penis, testosteron bekerja memperbaiki kekurangan hormon. Testosteron bisa digunakan dalam berbagai bentuk, termasuk koyo, krim topical, dan suntikan. Efek samping bisa termasuk disfungsi hati, jumlah sel darah merah meningkat, dan meningkatkan resiko stroke. Pengganti testoteron sendiri jarang cukup untuk mengatasi disfungsi ereksi. Apakah testoteron meningkatkan resiko kanker prostate belum jelas, tetapi pria yang menggunakan testoteron seharusnya dimonitor secara seksama.

Penekanan (mengikat) dan alat vakum : disfungsi ereksi bisa seringkali dikendalikan dengan menggunakan alat penekan dengan atau tanpa alat vakum. Alat-alat ini memampukan seorang pria untuk menghindari efek samping yang diakibatkan terapi obat. Alat penekan di antara pengobatan disfungsi ereksi lainnya setidaknya tidak mahal. Alat ini (seperti pita dan cincin terbuat dari metal, karet, atau kulit) dipasang di pangkal penis untuk memperlambat aliran darah. Alat kesehatan ini dapat dibeli dengan resep dokter di apotik, namun versi murah (sering disebut cock ring) bisa dibeli ditoko-toko yang menjual perlengkapan seks.

Alat vakum (yang terdiri dari ruang berongga rapat untuk sumber isapan) dipasang melampaui penis, membuat segel. Penghisap mekanik dipasang ke ruang penarik darah ke dalam penis, menghasilkan ereksi. Beberapa alat vakum yang memiliki alat penekan yang diarahkan ke ujung penis. Jika tidak, alat penekan bisa dipakai terpisah.

Operasi : ketika disfungsi ereksi tidak bereaksi kepada pengobatan lain, sebuah alat yang merangsang ereksi (prothesis) bisa ditanamkan lewat operasi pada penis.

Berbagai prostheses bisa dijumpai. Salah satu tipe terdiri dari sepasang tangkai kukuh, yang dimasukkan ke dalam masing-masing korpus cavernosa untuk membuat zakar keras secara permanen. Jenis protese lain adalah suatu balon yang dapat membesar yang dimasukkan ke dalam zakar. Sebelum berhubungan badan, laki-laki menggembungkan balon dengan pompa internal yang kecil. Operasi implantation penile protese memerlukan waktu menginap di rumah sakit sebentar dan penyembuhannya selama 6 minggu sebelum hubungan badan.

Terapi psikologi : beberapa jenis terapi psikologi (termasuk teknik modifikasi prilaku, seperti teknik fokus pada sensasi) dapat meningkatkan faktor mental dan emosional yang berperan terhadap disfungsi ereksi. Terapi psikologi bahkan bisa menolong pada waktu disfungsi ereksi mengalami penyebab fisik, karena faktor psikologi sering menjadi masalah.

Terapi khusus dipilih berdasarkan keadaan psikologis tertentu yang menyebabkan disfungsi ereksi pada pria. Contohnya, jika pria menderita depresi, psikoterapi dapat menolong disfungsi ereksi. Antidepresan dapat menolong disfungsi ereksi dengan menghilangkan depresi, tetapi antidepresan itu sendiri bisa mengurangi gairah seks dan menyebabkan disfungsi ereksi, jadi pengaruhnya sulit diprediksi. Terkadang psikoterapi dapat mengurangi ketertarikan berhubungan seks pada pria penderita disfungsi ereksi karena berbagai penyebab. Perkembangannya membutuhkan waktu yang lama, dan membutuhkan beberapa sesi. Seorang pria, dan pasangannya, harus memiliki motivasi yang tinggi supaya psikoterapinya bekerja.
More aboutPengobatan Disfungsi Ereksi

Gejala Disfungsi Ereksi

Diposting oleh Unknown

Disfungsi Ereksi dikenal dalam bahasa inggris dengan istilah Erectile Dysfunction merupakan salah satu ketidakmampuan pria untuk melakukan ereksi atau menjaga ereksi tetap terjadi pada waktu melakukan penetrasi hubungan intim.

Disfungsi Ereksi ini dikenal juga dengan impotensi atau lemah syahwat. Penyebab utamanya tidak lain adalah adanya gangguan yang menghalangi atau mengurangi aliran darah ke penis pada waktu ereksi atau juga kerusakan syaraf menuju penis, gangguan hormon, masalah psikologi, atau karena akibat pemakaian obat-obatan tertentu.

Pada pria yang mengalami fase ini pada umumnya memiliki libido seks atau gairah seks yang menurun. Tidak bersemangat lagi dalam berhubungan intim.

Setiap pria pada suatu waktu memang adakalanya tidak bergairah untuk melakukan hubungan intim dan ada juga kalanya tidak bisa mencapai ereksi dan hal tersebut adalah normal. Yang tidak normal atau disebut disfungsi ereksi ini bila kejadian tidak bisa ereksi tersebut terjadi sering atau terus-menerus.

Disfungsi ereksi bisa dialami pada tingkat ringan, menengah dan sampai tingkat parah. Seorang pria yang mengalami disfungsi ereksi pada tingkat ringat masih bisa mencapai ereksi penuh tapi pria tersebut lebih sering lagi mencapai ereksi yang tidak penuh atau tidak cukup untuk melakukan penetrasi hubungan intim atau bisa juga tidak ereksi sama sekali. Dan bila untuk pria yang mengalami disfungsi ereksi tingkat parah, pria tersebut jarang bisa mencapai ereksi.

Yang menentukan berat atau ringannya disfungsi ereksi pada pria nantinya tergantung pada penilaian dari dokter atau terapis yang menangani pasien.

Mungkin saja sebagian pasien nantinya merasa disfungsi ereksi yang dialaminya sudah termasuk sangat berat, meski berbeda nantinya dan menurut ilmu patologi masih termasuk disfungsi ereksi masih ringan.

Misalnya disfungsi ereksi yang dialami pengantin baru. Lebih dari 3 bulan tidak mampu melakukan koitus karena proses ereksi yang tidak normal. Sebagai pengantin baru suami sangat mengharapkan koitus pertama dengan ereksi yang sempurna sehingga vagina bisa ditembus.

Bila Ereksi Pria kurang keras dan gagal beberapa kali dalam melakukan hubungan intim maka perasaannya sangat terpukul, dan istri merasa sangat kecewa. Oleh karena itu gangguan ereksi dirasakan termasuk berat

Sebenarnya bila gangguan ereksi baru berlangsung sejak permulaan perkawinan misalnya bulan tetapi sebelum pernikahan ereksi masih normal, maka keadaan ini termasuk dalam kondisi disfungsi ereksi yang sedang atau ringan. Lagi pula pada orang muda gangguan fisik kemungkinan jarang atau sangat ringan.

Sebagian besar kondisi disfungsi ereksi yang termasuk berat adalah bila telah berlangsung 6 bulan atau lebih pada keadaan-keadaan sebagai berikut:

1. Ereksi tidak bisa dicapai pada saat bercumbu sehingga penetrasi tidak bisa dilakukan. Kadang-kadang penetrasi bisa dipaksakan dengan harapan ereksi bisa terjadi di dalam vagina tetapi tetap gagal. Bila keadaan ini berlangsung terus dalam 6 bulan atau lebih maka disfungsi ereksi yang demikian sudah cukup berat.

2. Di samping itu ereksi pada waktu subuh atau pagi hari juga tidak ada lagi. Biasanya waktu pagi atau subuh pria terbangun karena ereksi yang keras atau karena keinginan untuk buang air kecil. Pada saat itu, biasanya ereksi cukup keras. Bila dalam waktu 6 bulan ereksi pada waktu pagi tidak terjadi berarti keadaan disfungsi ereksi cukup berat.

3. Bila koitus selalu gagal, dan dicoba diatasi dengan menonton blue film sendirian sambil melakukan masturbasi, ternyata ereksi tidak terjadi. Yang didapat hanya penis sedikit membesar tap tidak pernah ereksi. Bila hal ini berlangsung selama 6 bulan terus menerus berarti ereksi sudah cukup berat.

4. Di samping gejala dan kondisi di atas, sering penis terlihat makin mengecil atau berkerut. Pada saat mandi, penis dipegang dan digosok tetapi penis tetap kecil. Keadaan ini lebih memberatkan perasaan penderita.

Kondisi di atas menunjukkan disfungsi ereksi yang cukup berat terutama bila sudah berlangsung selama 6 bulan atau lebih. Sebagian laki-laki akan membiarkan keadaan itu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Makin lama keadaan itu berlangsung berarti disfungsi ereksi makin berat.

Disfungsi ereksi lebih berat lagi bila ada penyakit penyerta yang kebetulan ada atau sebagai penyebab misalnya diabetes mellitus, hipertensi, kerusakan medulla spinalis (sumsum tulang punggung) dan lain-lain.

Demikian juga konflik yang menimpa suami istri, terutama bila istri melakukan kontak seksual dengan pria lain. Keadaan seperti itu menyebabkan gangguan disfungsi ereksi lebih sulit disembuhkan sehingga masuk dalam klasifikasi berat.
More aboutGejala Disfungsi Ereksi

Penyebab Disfungi Ereksi

Diposting oleh Unknown

Untuk mencapai ereksi, penis membutuhkan peredaran darah masuk yang cukup, peredaran darah keluar yang melambat dan fungsi yang tepat pada syaraf yang mengatur darah mengalir ke penis dan dari penis.

Gangguan yang mempersempit arteri dan mengurangi pemasukan darah (seperti atherosclerosis, diabetes, tekanan darah tinggi, dan tingkat kolesterol darah yang tinggi) atau operasi yang mempengaruhi pembuluh darah dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Juga, ketidaknormalan dalam pembuluh pada penis kadangkala bisa kembali mengalirkan darah ke dalam tubuh dengan cepat sehingga ereksi tidak bisa dipertahankan meskipun aliran darah tercukupi.

Kerusakan syaraf menuju atau dari penis dapat menghasilkan disfungsi ereksi. Kerusakan serupa dapat diakibatkan dari bagian panggul atau operasi perut (umumnya operasi prostat), terapi radiasi, penyakit tulang belakang, diabetes, multiple sclerosis, atau gangguan seputar syaraf.

Faktor resiko lainnya termasuk stroke, merokok, alkohol, dan obat-obatan. Obat-obatan umumnya menyebabkan disfungsi ereksi (umumnya pada pria yang lebih tua) termasuk antihipertensi, anti depresan. Beberapa sedatif, cimetidine, beberapa diuretik, antipsikotik, dan obat-obatan illicit.

Adakalanya, gangguan hormon (seperti rendahnya tingkat testosterone) menyebabkan disfungsi ereksi. Demikian juga, faktor-faktor yang mengurangi tingkat energi seorang pria (seperti sakit, lelah, dan stress) dapat membuat kesulitan mencapai ereksi.

Masalah psikologi yang dapat menyebabkan disfungsi seksual dapat mempengaruhi kemampuan untuk mencapai ereksi. Hal psikologis menyebabkan lebih sering terjadi pada pria lebih muda. Setiap situasi stress yang baru, seperti berganti pasangan seks atau masalah dengan hubungan atau di tempat kerja, juga bisa memberi kontribusi.

Gejala Disfungsi Ereksi

Gairah seks (libido) seringkali menurun pada pria dengan disfungsi ereksi, meskipun beberapa pria mempertahankan libido secara normal. Tanpa memperhatikan perubahan libido, pria dengan disfungsi ereksi mempunyai kesulitan dalam berhubungan seks yang mana disebabkan penis yang ereksi tidak cukup keras, panjang atau bertambah untuk penetrasi atau karena ereksi tidak dapat terbentuk. Beberapa pria berhenti mengalami ereksi ketika tidur atau bangun. Yang lainnya bisa mencapai ereksi kuat kadangkala namun tidak bisa mencapai atau menjaga ereksi di lain waktu.

Pada saat tingkat hormon testosteron rendah, akibatnya lebih mungkin turunnya libido daripada disfungsi ereksi. Sebagai tambahan, tingkat testosteron yang rendah bisa menimbulkan pengeroposan tulang, kehilangan tenaga, dan kehilangan kepadatan otot.
More aboutPenyebab Disfungi Ereksi

Disfungsi Eeksi

Diposting oleh Unknown

Disfungsi ereksi atau impotensi (Bahasa Inggris: erectile dysfunction) adalah ketidakmampuan untuk memulai ereksi atau mempertahankan ereksi.

Penyebab Disfungi Ereksi
Impotensi biasanya merupakan akibat dari :
Kelainan pembuluh darah
Kelainan persyarafan
Obat-obatan
Kelainan pada penis
Masalah psikis yang memengaruhi gairah seksual.

Penyebab yang bersifat fisik lebih banyak ditemukan pada pria lanjut usia, sedangkan masalah psikis lebih sering terjadi pada pria yang lebih muda. Semakin bertambah umur seorang pria, maka impotensi semakin sering terjadi, meskipun impotensi bukan merupakan bagian dari proses penuaan tetapi merupakan akibat dari penyakit yang sering ditemukan pada usia lanjut. Sekitar 50% pria berusia 65 tahun dan 75% pria berusia 80 tahun mengalami impotensi.

Agar bisa tegak, penis memerlukan aliran darah yang cukup. Karena itu penyakit pembuluh darah (misalnya aterosklerosis) bisa menyebabkan impotensi. Impotensi juga bisa terjadi akibat adanya bekuan darah atau akibat pembedahan pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis.

Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan impotensi. Kerusakan saraf ini bisa terjadi akibat:

Cedera Diabetes melitus
Sklerosis multiple
Stroke
Obat-obatan
Alkohol
Penyakit tulang belakang bagian bawah
Pembedahan rektum atau prostat.

Sekitar 25% kasus impotensi disebabkan oleh obat-obatan (terutama pada pria usia lanjut yang banyak mengonsumsi obat-obatan).

Obat-obat yang bisa menyebabkan impotensi adalah:
Anti-hipertensi
Anti-psikosa
Anti-depresi
Obat penenang
Simetidin
Litium

Kadang impotensi terjadi akibat rendahnya kadar hormon testosteron. Tetapi penurunan kadar hormon pria (yang cenderung terjadi akibat proses penuaan), biasanya lebih sering menyebabkan penurunan gairah seksual (libido).

Beberapa faktor psikis yang bisa menyebabkan impotensi:
Depresi
Kecemasan
Perasaan bersalah
Perasaan takut akan keintiman
Kebimbangan tentang jenis kelamin.

Gejala: Penderita tidak mampu memulai dan mempertahankan ereksi.
Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari adanya perubahan ciri seksual pria, misalnya payudara, testis dan ukuran penis, serta perubahan pada rambut, suara maupun kulit.

Untuk membedakan penyebab fisik atau psikis, dapat dilihat dari ereksi tidur yang biasanya dijumpai pula saat bangun pagi/morning erection. jika saat penderita masih mengalami morning erction, berarti impotensinya disebabkan oleh masalah psikis dan sebaliknya, jika penderita tidak mengalami morning erection maka penyebab impotensinya adalah masalah fisik.

Untuk mengetahui adanya kelainan pada arteri di panggul dan selangkangan (yang memasok darah ke penis), dilakukan pengukuran tekanan darah di tungkai.

Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan:

Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan gula darah untuk diabetes
Pemeriksaan kadar TSH
USG penis.

Pengobatan

Nutrisi yang dibutuhkan : Calcium I, Zinc, Cordyceps, Beneficial dan Vitality

Impotensi biasanya bisa diobati tanpa pembedahan dan jenis pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Latihan khusus dilakukan oleh penderita impotensi akibat masalah psikis, yaitu yang disebut Teknik pemusatan sensasi 3 tahap.

Teknik ini mendorong hubungan intim dan kehangatan emosional, yang lebih menitikberatkan kepada membangun sebuah hubungan :

Tahap I : Bercumbu, pasangan berkonsentrasi untuk menyenangkan satu sama lain tanpa menyentuh daerah kemaluan.
Tahap II : Pasangan mulai menyentuh daerah kemaluan atau daerah erotis lainnya, tetapi belum melakukan hubungan badan.
Tahap III : Melakukan hubungan badan.

Masing-masing mencapai kenyamanan pada setiap tahap keintiman sebelum berlanjut ke tahap selanjutnya. Jika teknik tersebut tidak berhasil, mungkin penderita perlu menjalani psikoterapi atau terapi perilaku seksual. Jika penderita mengalami depresi, bisa diberikan obat anti depresi. source
More aboutDisfungsi Eeksi

Ini Dia yang Bikin Penis Pria Tak Bisa 'Ereksi'

Diposting oleh Unknown on Kamis, 05 April 2012

Disfungsi ereksi alias impotensi merupakan gangguan kesehatan yang paling ditakuti pria. Berbagai macam cara bisa dicoba pria untuk menunjukkan 'kejantanannya' tersebut. Ketahui apa saja yang membuat kelamin pria tak bisa 'berdiri'.

Untuk dapat ereksi (tegangnya kelamin) dengan sempurna, penis membutuhkan elastisitas pembuluh darah dan ritme jantung yang stabil untuk memompa darah ke bagian tersebut.

Namun ada beberapa faktor yang membuat darah tidak terpompa secara sempurna, yang akhirnya membuat senjata pria tidak mampu 'berdiri', antara lain seperti dilansir webmd, Kamis (5/4/2012):

1. Depresi
Otak adalah zona sensitif seksual yang sering diabaikan. Gairah seksual dimulai di kepala (otak) dan terus berjalan ke bawah (penis). Depresi dapat mengurangi keinginan Anda untuk bercinta dan menyebabkan disfungsi seksual. Ironisnya, banyak obat yang dipakai untuk mengobati depresi juga dapat menekan dorongan seksual dan membuat pria lebih sulit mendapatkan ereksi.

2. Alkohol
Banyak yang berpikir bahwa minum sedikit alkohol dapat meningkatkan mood untuk bercinta, tetapi kebiasaan minum alkohol dapat membuat pria lebih sulit untuk ereksi. Penggunaan alkohol yang tinggi dapat mengganggu ereksi, tetapi efek ini biasanya sementara.

3. Obat-obatan
Obat-obatan juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi, seperti beberapa obat tekanan darah tinggi, obat penghilang nyeri dan antidepresan. Obat-obat ilegal seperti amfetamin, kokain dan ganja juga dapat menyebabkan masalah seksual pada pria.

4. Stres
Tidak mudah untuk mendapatkan mood bercinta ketika Anda sedang kewalahan dengan pekerjaan di tempat kerja atau rumah. Stres dapat merugikan berbagai bagian tubuh, termasuk penis. Atasi stres dengan membuat perubahan pada gaya hidup, seperti melakukan relaksasi dengan olahraga secara teratut, cukup tidur dan mencari bantuan dokter bila perlu.

5. Kemarahan
Kemarahan dapat membuat darah naik ke wajah, tapi tidak ke tempat yang pria butuhkan ketika ingin melakukan hubungan seks. Kemarahan baik yang langsung ataupun tidak, dapat berkontribusi untuk masalah kinerja di kamar tidur.

6. Kegelisahan atau kecemasan
Semua kecemasan yang dapat membuat Anda takut dan menghindari keintiman, ibarat lingkaran setan yang menempatkan tekanan besar pada kehidupan seks Anda.

7. Kegemukan
Pria yang kegemukan alias obesitas tidak hanya menurunkan rasa percaya diri tetapi juga kemampuan di kamar tidur. Pria yang obesitas menghasilkan lebih sedikit hormon testosteron, yang penting untuk menaikkan gairah seksual dan ereksi. Kelebihan berat badan juga terkait dengan tekanan darah tinggi dan pengerasan pembuluh darah, yang dapat mengurangi aliran darah ke penis.

8. Citra diri negatif
Bila Anda tidak menyukai apa yang Anda lihat di cermin, mudah untuk menganggap pasangan tidak akan menyukai pandangan tersebut. Citra diri yang negatif dapat membuat Anda khawatir dan menurunkan kinerja saat mencoba melakukan hubungan seksual.

9. Libido rendah
Libido rendah tidak sama dengan disfungsi ereksi, tetapi banyak faktor yang menyebabkan disfungsi ereksi juga dapat mengurangi libido (gairah seksual). Harga diri yang rendah, stres, kecemasan dan obat tertentu, semua juga bisa mengurangi gairah seks. Ketika semua kekhawatiran terikat saat berhubungan seksual, maka minat Anda pada seks dapat menukik tajam.

10. Kondisi kesehatan
Banyak kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi saraf, otot atau aliran darah yang diperlukan untuk mendapatkan ereksi. Diabetes, tekanan darah tinggi, pengerasan pembuluh darah, cedera tulang belakang,dan multiple sclerosis dapat berkontribusi untuk terjadinya disfungsi ereksi.

Operasi untuk mengobati masalah prostat atau kandung kemih juga dapat mempengaruhi saraf dan pembuluh darah yang mengontrol ereksi.
More aboutIni Dia yang Bikin Penis Pria Tak Bisa 'Ereksi'